Too Deep to Remember
Suatu hari kamu akan lupa siapa dirimu sendiri dan menjadi seseorang yang bahkan tidak kamu kenal lagi. Buatlah catatan dalam hidupmu dan ketika kamu membacanya, kamu akan sadari, betapa bodohnya dirimu pada saat itu.
Tiba-tiba saja kata-kata itu terngiang di telingaku di saat aku sedang begitu lelahnya menjalani semua ketidakjelasan ini. Tidak jelas, gelap, ntah aku yang berjalan membelakangi cahaya atau jalan ini memang tidak ada cahayanya aku tidak tahu, tidak ada yang jelas di sini. Lalu aku pun memeriksa beberapa tulisan di masa laluku dan ternyata ada satu kisah yang cukup bagus menurutku. Selamat menikmati karya aku yang di masa lalu.
------
Deep Heart
Dari kelima ksatria yang diutus empat telah gugur di perjalanan karena tiap-tiap heart dilindungi oleh seekor monster kuat. Ksatria yg tersisa hanyalah Lorentz. Ia ditugaskan untuk ke hutan. Dalam perjalananna mencari heart, ia melihat sebuah pohon apel yang kaya akan buah apel segar. Ia pun memetik sebuah. Tiba-tiba saja sebuah anak panah melesat, menembus buah apel, lalu menancap di sebuah batang pohon.
Lorentz mencabut pedangnya lalu berlari menuju sumber arah anak panah. Pemanah itu sungguh cepat berlari pergi. Namun pengejaran itu tak berkunjung lama. Si pemanah mendapatkan jalan buntu yang berakhir pada jurang tinggi.
Inilah kesempatan besar Lorentz untuk mengetahui sosok pemanah itu. Kaget, itulah yang Lorentz rasakan ketika menyadari bahwa pemanah itu adalah seorang gadis yang seumuran dengannya. "Sedang apa kamu sendirian di hutan ini?" tanya Lorentz.
"Kamu sendiri?" gadis itu balik bertanya.
"Aku?" Lorentz heran begitu pertanyaannya dikembalikan mentah-mentah, "Aku sedang mencari Wooden Heart yang katanya ada di hutan ini."
"Apa itu Wooden Heart?"
"Salah satu dari lima obat untuk putri raja. Di hutan ini seekor monster ganas sedang menjaganya."
"Aku tinggal di hutan ini tapi aku tidak pernah melihat monster. Kenapa tidak mencari empat yang lainnya. Namaku Venash, mungkin aku dapat membantumu."
"Namaku Lorentz, senang berjumpa denganmu," ujarnya sambil membungkukkan badan dengan cara yang khas dari seorang ksatria.
Perjalanan pertama mereka pun dimulai dari gunung salju yang tak jauh dari hutan tempat mereka bertemu. Begitu dingin di sana. Bahkan Venash sampai terlihat gemetaran. "Kalau kamu mau pulang, pulanglah. Selagi masih sempat," kata Lorentz.
"Tidak mau," jawab Venash.
"Keras kepala," Lorentz mengeluh lalu melepas baju zirahnya yang tebal dan memberikannya kepada Venash.
"Kamu sendiri gimana?" tanya Venash.
"Aku terlatih untuk keadaan seperti ini," jawab Lorentz sambil melangkahkan kaki.
Tiba-tiba saja terdengar suara raungan kuat diikuti kemunculan sesosok makhluk setinggi tiga meter. Lorentz mencabut pedangnya. Namun monster itu lebih dulu mencengkram Lorentz dengan tangannya yang besar.
Dengan sigap Venash menembakkan sebuah anak panah yang kemudian tepat menancap di jantung monster itu. Lorentz berhasil bebas. Monster besar itu tumbang dengan hebatnya. Sebuah getaran dahsyat terbentuk dan salju pun mulai longsor. Lorentz menarik tangan Venash lalu mereka pun berselancar menyusuri salju longsor di atas bongkahan tubuh mayat monster itu.
Ternyata, salju itu berujung pada sebuah jurang. Lorentz menancapkan pedangnya di pinggir tebing tepat sebelum mereka berdua jatuh. Kini tangan kanannya menggantung pada pedang yang tertancap itu sementara tangan kirinya menggenggam erat tangan Venash. "Ugh," rintih Lorentz. Tubuh Venash menjadi begitu berat karena mengenakan baju zirah. Ia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mengangkat Venash dengan satu tangan kembali ke atas. Lalu ia pun memanjat tebing itu dengan kaki dan pedangnya.
Monster sudah mati namun mereka tidak juga berhasil mendapatkan Frozen Heart dari gunung salju itu. Perjalanan mereka pun berlanjut ke sebuah gunung berapi besar yang menjadi pusat dari gunung-gunung salju itu.
Singkat cerita, keduanya tak mendapatkan apa-apa sepanjang perjalanan, baik itu Wooden Heart, Frozen Heart, Burning Heart, Stone Heart, dan Liquid Heart. "Bagaimana ini? Apakah raja akan marah?" tanya Venash.
Lorentz menjawab dengan nada rendah, "Tentu saja. Tapi aku tidak akan lari."
"Kalau begitu kamu akan kembali ke istana dengan tangan hampa?"
"Kalau begitu, aku akan ikut karena aku sudah terlibat hingga sejauh ini."
Lorentz dan Venash pun pergi ke istana. Kabar tentang kegagalan mereka telah lebih dulu sampai ke telinga raja. Raja pun sudah mempersiapkan hukuman untuk Lorentz. "Yang mulia, maafkan hamba," ujar Lorentz sambil membungkukkan badan. Venash pun ikut membungkukkan badannya.
Tabib istana terkejut begitu melihat Venash. "Yang mulia, kelima obat untuk tuan putri ternyata ada di dalam tubuh gadis itu, yang mulia."
"Tangkap gadis itu!" perintah raja sambil menunjuk Venash.
Lorentz dan Venash terkejut. Kini mereka telah dikepung oleh prajurit istana. Lorentz pun mencabut pedangnya lalu sebuah pertarungan terjadi di hadapan sang Raja. Sebagai ksatria yang diakui, Lorentz patut unggul.
------
Bukannya apa, ceritanya memang cuma segitu, aku sendiri enggak ingat bagaimana lanjutannya. Kisah ini ditulis pada tanggal 4 Desember 2009. Ya, bisa dibilang tiga setengah tahun yang lalu. Mungkin bagi yang berminat bisa melanjutkan cerita ini. Terima kasih telah membaca. :)
download file now